Bagaimana Membuat dan Mengelola Konflik Agar Naskah Menjadi Menarik?

Dalam kehidupan nyata, kita dianjurkan untuk meminimalisasi konflik. Baik konflik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Kondisi berbalik seratus delapan puluh derajat dengan prosa atau karya fiksi. Konflik merupakan sesuatu yang harus ada di dalamnya.

Tidak adanya konflik justru membuat prosa fiksi seolah masakan tanpa bumbu. Hambar alias tidak berasa. Ya, konflik adalah bumbu atau pemanis cerita. Semakin ‘greget’ konfliknya, maka semakin bagus ceritanya. Namun, ketika konfliknya saja tidak ada, maka cerita akan terkesan monoton. Orang yang membacanya pun bosan.

Ketika kita menulis sebuah cerita berarti kita harus menyiapkan minimal satu konflik. Namun, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian dalam mengelola konflik, yaitu sebagai berikut.

  1. Menarik
    Tidak ubahnya membuat judul, penulis juga harus menyajikan konflik yang menarik. Buatlah pergolakan batin pembaca melalui sajian konflik. Konflik yang menarik itulah yang akan membuat pembaca tertarik untuk membaca. Konflik tidak harus “wah”, apalagi memaksakan sajian konflik yang “wah”. Cukup dengan menyajikan konflik yang biasa atau lumrah terjadi, tetapi dengan sajian bahasa yang mampu menyeret pembaca ke dalam konflik yang kita ciptakan.
  1. Sajikan Seperlunya
    Memang, ketika kita menulis sebuah cerita, maka kita harus menyediakan minimal satu konflik. Karena konflik adalah bumbu atau pemanis cerita. Namun, kita harus menyajikan konflik seperlunya saja. Tidak perlu menyajikan konflik yang terlalu banyak. Konflik yang terlalu banyak bisa berdampak negatif, baik kepada penulis atau pembaca. Untuk penulis pemula dampak itu sangat terasa. Untuk penulis pemula, konflik yang terlalu banyak akan membuat karyanya tidak tergarap dengan baik. Bahkan, kemungkinan tidak selesai begitu besar. Ketika kita menulis cerpen, maka kita cukup menyajikan satu konflik saja. Bagi pembaca konflik yang terlalu banyak akan membingungkan mereka. Dan apa yang terjadi ketika mereka bingung? Mereka akan berhenti membaca tulisan kita. Bahkan, bisa jadi membuat mereka sebal karena merasa dikerjai oleh penulis. Sehingga mereka mengistirahatkan (baca: membuang) naskah kita. Ups, sayang sekali, kan?
  1. Fokus
    Ketika menyajikan konflik harus fokus. Konflik harus sesuai dengan tema yang diangkat. Sangat tidak diperkenankan kita menyajikan konflik yang melebar ke mana-mana alias tidak fokus. Konflik yang tidak fokus bisa diibaratkan seorang yang telah kehilangan jati diri.
  1. Menyelesaikan Konflik dengan Memuaskan
    Seperti sudah disinggung di atas, ketika kita membuat sebuah cerita berarti kita harus menyediakan minimal satu konflik. Dan ketika konflik sudah kita sajikan, maka kita harus menyiapkan penyelesaiannya. Konflik itu masalah, maka masalah itu harus diselesaikan.

Menyelesaikan atau memberi jalan keluar pada konflik harus secermat mungkin. Jangan sampai kita menyelesaikan konflik dengan membuat penulis tidak puas. Banyak sekali terjadi hal itu, di mana penulis sudah menyajikan penyelesaian terhadap konflik tetapi sangat tidak memuaskan. Justru pembaca mendapati konflik itu belum diselesaikan. Jadi, sebagai penulis, ketika hendak menyajikan konflik, maka kita harus menyediakan penyelesaiannya yang terbaik.

  1. Membuat Penasaran
    Konflik yang kita sajikan harus membuat pembaca penasaran. Ketika pembaca penasaran, maka ia akan terus membacanya sampai selesai. Namun, ketika konfliknya saja tidak membuat penasaran alias sudah bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya, maka pembaca tidak akan membacanya sampai selesai. Sangat sayang, kan? Sudah berjuang mati-matian menulis, tetapi tidak dibaca sampai selesai.
  1. Menyeret Pembaca
    Pastikan konflik yang kita sajikan menyeret pembaca. Maksudnya, pembaca akan merasa terbawa arus konflik yang kita sajikan. Kita harus pandai-pandai mengolah kata untuk hal itu. Kelihaian menyajikan konflik akan membuat pembaca terajak atau terbawa ke dalam arus yang kita sajikan. Jangan seru sendiri.
  1. Kebetulan Tidak Boleh Berlebihan
    Ada kalanya kita menyajikan sesuatu hal yang kebetulan dalam cerita. Tiba-tiba terjadi sesuatu hal karena kebetulan. Terlalu banyak kebetulan membuat cerita kurang menarik.
    Selain itu, pembaca juga akan menilai kita sebagai penulis yang tidak cerdas. Kita harus mampu mengalurkan sebab-akibat dalam cerita. Sebab-akibat merupakan salah satu hal yang wajib dalam cerita.
    Walaupun mungkin cerita yang kita sajikan itu cerita horor atau yang berhubungan dengan “alam lain”, tetapi hukum sebab-akibat tetap berlaku. Tidak bisa ditanggalkan.
    Sajikan konflik yang ada sebab sebelumnya (yang menyebabkan terjadinya konflik) dan selesaikan bukan dengan kebetulan, tetapi dengan penyelesaian yang cerdas dan cermat.

Demikian perihal mengelola konflik dengan baik. Sangat mudah, kan? Kalau iya, berarti selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

NB: Mau Mendapatkan Materi Menulis Lebih Banyak di KursusMenulisOnline.com? Silahkan Registrasi Gratis DISINI