Resiko Yang Harus Di Hadapi Ketika Memutuskan Menjadi Seorang Penulis

Jangan pikir kalo jadi penulis itu enak, karena ada resiko-resiko yang akan menghampiri di depan kamu.
Apa saja yang kita kerjakan senantiasa dibayangi resiko-resiko. Resiko itu hadir seolah mengaminkan adanya hukum sebab-akibat. Ketika ada sesuatu yang dilakukan, maka akan ada akibat yang dihasilkan.

Misalnya, ketika kita memutuskan untuk berjualan, maka kita harus siap melayani pembeli yang datang. Ketika kita mengirimkan SMS ke seseorang, maka ada kemungkinan kita akan mendapatkan SMS balasan.

Begitupun dengan menulis. Ketika kita memutuskan menjadi penulis, maka akan ada juga resiko yang harus kita hadapi. Ya, menjadi penulis itu beresiko. Bahkan, sangat beresiko. Kita harus siap menghadapi segenap resiko yang siap sedia menghadang di tengah jalan.

Aduh, jadi bagaimana ini? Haruskan kita berhenti menulis? Tidak. Karena berhenti menulis juga bukan solusi. Ketika berhenti menulis pun kita juga akan dihadapkan pada resiko. Jadi, semuanya ada resikonya.

Baik, kembali fokus ke resiko menjadi penulis. Beberapa resiko inilah yang akan kita hadapi ketika menjadi penulis.

1. Terkenal.
Menjadi penulis beresiko menjadi orang yang terkenal. Ya, karena ketika buku kita terbit, maka secara tidak langsung kita sudah mengenalkan diri kita kepada orang banyak.

Ketika buku kita terbit dan terjual sebanyak seribu eksemplar misalnya, maka secara tidak langsung kita telah mengenalkan diri beserta buku kita di hadapan minimal seribu orang yang membeli buku kita. Mereka (seribu orang) itu tidak sendiri.

Artinya, ada kemungkinan mereka mengenalkan nama kita kepada orang-orang terdekatnya seperti saudara, adik, kakak, anak, istri atau suami, ayah, ibu, dan lain sebagainya.

Biasanya penerbit mencetak seribu eksemplar dalam sekali edisi cetakan. Bagaimana jika terjadi edisi cetakan ke-2 dan seterusnya? Pasti orang yang mengenal kita jauh lebih banyak lagi.

2. Berpenghasilan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa keputusan menjadi penulis merupakan keputusan yang beresiko mendapatkan uang.

Ya, ketika naskah atau bukunya diterbitkan, maka saat itu juga ia menerima royalti. Royalti biasanya dibayarkan berdasarkan hasil penjualan. Besarannya tergantung kepada kebijakan dari penerbit. Ada penerbit yang memberi royalti 5%. Berarti jika harga satu bukunya Rp 50.000,-, maka kita mendapatkan royalti sebesar Rp 2.500,- perbuku yang terjual. Kecil, ya?

Tapi ingat, buku kita tidak hanya satu. Jika seribu eksemplar terjual semua, maka royalti yang kita dapatkan sebesar Rp 2.500.000,-. Lumayan, kan? Itu kalau dihitung dengan besaran royalti yang termasuk kategori kecil. Lalu, bagaimana jika buku kita dicetak berkali-kali?

Bagaimana jika kita tidak hanya menerbitkan satu buku? Wah, kalau soal itu silakan dihitung sendiri saja. Hehe. Saya hanya memberitahukan saja kalau tulisan atau buku kita diterbitkan, maka kita akan mendapatkan bayaran (royalti).

3. Berbagi kebaikan.
Ketika menjadi penulis, maka tulislah sesuatu yang bermanfaat. Tulislah sesuatu yang berupa kebaikan-kebaikan. Ketika tulisan kita mampu memberi hidayah atau membawa perubahan baik pada seseorang, maka sejak itulah tulisan kita bermanfaat.

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa ada tiga amalan yang tidak akan terputus walau yang bersangkutan tidak lagi berada di dunia (sudah meninggal dunia). Ketiga amalan itu adalah sedekah jariyah (sedekah yang awet, seperti sedekah untuk membangun masjid, pesantren, dan lain sebagainya), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.

Menjadi penulis berpeluang untuk menyajikan ilmu yang bermanfaat kepada orang banyak.

Demikian sekelumit resiko besar yang harus kita hadapi ketika memutuskan diri untuk menjadi penulis. Adapun resiko-resiko lain seperti dihormati, dipandang sebagai orang hebat, dan lain sebagainya hanyalah pengiring dari ketiga resiko di atas.

Saya sangat berharap kita cerdas dalam mempertimbangkan segenap resikonya. Pertimbangkan sebelum memutuskan. Karena resikonya tidak hanya di dunia, tetapi juga menyangkut sampai ke akhirat.